Sapa manis “smile” tuk teman-teman semua.
Da berita baru apa nie….
Tentunya sudah pada tahu kan kalau Bill Gates (boss Microsoft) telah berkunjung ke Indonesia hari Selasa yang lalu. Wah,, hebat banget ga’sih Indonesia menurut teman-teman, karena telah mendapat kunjungan dari orang yang berpengaruh bagi dunia. Ccck ccck ….. pasti pada berdecak kagum ya terhadap Bill Gates yang pernah menjadi orang terkaya sedunia. Hayo ngaku… pada pengen seperti Bill Gates khan..
Kalo aku memang pengen banget jadi orang pinter seperti dia. Apalagi selain pinter juga kaya… tapi,,,, jujur yach ga’ada rasa bangga di hatiku ketika Indonesia mendapat kunjungan darinya. Yang ada justru perasaan khawatir, jangan jangan……., jangan-jangan…. Bukannya su’udzon, tapi waspada ga’ ada salahnya khan. Indonesia khan mudah banget terkena bujuk rayu,,siapa tahu aja tiba-tiba Indonesia diculik secara sukarela… (hehehe ga’lucu bangets khan).
Kedatangan Bill Gates ke Indonesia tentu bukan hanya untuk tujuan wisata. Pasti ada misi tertentu yang diembannya. Dan ternyata memang benar, kunjungannya ke Indonesia adalah untuk membahas masalah H5N1. Dan hebatnya Indonesia mendapat sumbangan 1 juta computer yang digunakan untuk pendidikan dengan perhitungan 1 komputer untuk 1000 anak. Ternyata bill gates baik hati banget ya..
Eits!!! Jangan bersorak dulu.. siapa tahu ada udang di balik rempeyek (enak donk, buat lauk anak kos). Dalam dunia bisnis pasti semua dihitung dengan analisis loss-profit, ya khan dan yang pasti ga’ ada prinsip rugi yang akan diterapkan dalam bisnis. Pengorbanan yang diberikan harus lebih kecil dari keuntungan yang akan diterima, hal itu tentu sudah lekat dalam mind-set orang-orang bisnis. Atau bahkan dalam otak kita juga, setiap hari khan itu yang kita pelajari.
Lalu, apakah yang tersembunyi di balik bantuan tersebut….
Nah, itulah yang masih menjadi misteri… bagi teman-teman yang sudah bisa menemukan jawabannya segera kabari aku yach.
Selasa, 13 Mei 2008
Sabtu, 10 Mei 2008
Globalisasi, kendaraan ekonomi negara penganjurnya
Globalisasi yang digembar-gemborkan oleh negara maju sebagai alat untuk memberantas kemiskinan dan membantu negara-negara maju, ternyata hanyalah slogan kosong belaka. Dengan getolnya negara-negara maju mempromosikan bahwa dengan menghilangkan hambatan-hambatan dalam perdagangan maka akan tercapailah kesetaraan ekonomi antara negara maju dengan negara berkembang.
Namun, apa yang terjadi sekarang ini sangat jauh dari apa yang pernah dikampanyekan oleh negara-negara maju. Karena ternyata globalisasi tak ubahnya kendaraan gratis, dengan negara-negara penganjur sebagai freeriders-nya. Sebuah laporan PBB (UNDP,1999) menyebutkan bahwa ketimpangan antara orang-orang kaya dengan orang-orang miskin baik dalam negara maupun antarnegara semakin meluas. Dan ironisnya, yang menjadi penyebab utama dari hal itu adalah sistem perdagangan dan keuangan global.
Merujuk pada peristiwa yang dialami oleh Macan-Macan Asia (Taiwan, Singapura, Malaysia, dan Korea Selatan) yang dulunya pernah mencapai perbaikan ekonomi justru dengan cara melakukan kebalikan dari perintah Bretton Woods, yaitu mengalihkan impor dengan mengembangkan kemampuan mengelola kebutuhan pokok secara internal dengan tidak berbasis pada ekspor. Namun, pada akhirnya mereka mengalami keterpurukan yang teramat memilukan (krisis keuangan Asia 1997-1998) ketika mereka tunduk pada tekanan-tekanan IMF dan Bank Dunia. Tentunya rujukan itu sudah dapat digunakan sebagai ”sinisme tingkat tinggi” jika kita masih menganggap bahwa globalisasi merupakan jalan keluar bagi negara miskin.
Jika kita mau mencermati, kebijakan-kebijakan yang disusun oleh Bretton Woods adalah dirancang untuk memberikan keuntungan kepada negara-negara industri kaya dan korporasi-korporasi global dengan tetap mengatasnamakan rakyat kecil sebagai sasaran kebijakan-kebijakan itu. Iya! Rakyat kecil memang menjadi sasaran, tapi sasaran yang dimaksud ternyata adalah sasaran empuk guna memenuhi ambisius keserakahan mereka. Sungguh, fakta yang menyedihkan.
Dengan membentuk instrumen yang bernama SAPs (Structural Adjustment Programs), IMF dan Bank Dunia semakin kuat mencengkeramkan kuku-kuku kekuasaannya terhadap negara-negara miskin. Ada berbagai persyaratan SAPs yang harus dipenuhi yang kesemuanya lebih pada pembantaian terhadap negara-negara berkembang.
Mengkritisi salah satu persayaratan SAPs yang menyebutkan bahwa harus ada pengurangan secara drastis terhadap berbagai pelayanan sosial dan aparat-aparat yang menjalankannya. Bagaimana hal itu bisa dikatakan sebagai sarana meningkatkan perekonomian negara berkembang? Kacamata seperti apa yang mereka gunakan, sungguh suatu pernyataan yang sulit diterima oleh rasio. Sementara di sisi lain, bantuan terhadap industri-industri kecil lokal dihapuskan. Lalu dengan cara apa negara-negara berkembang bisa mengejar negara maju. Dan dalam kebingungan tersebut bak dewa penolong negara-negara maju menawarkan bingkisan-bingkisan bantuan yang terkemas rapi yang ternyata tak lebih dari jeratan yang kita akan semakin menggelepar dalam jeratan tersebut.
Penghapusan pelayanan sosial tentu akan mempersulit rakyat dalam mendapatkan apa yang diperlukannya. Biaya-biaya kesehatan akan semakin mahal sehingga rakyat yang berada dalam zona ekonomi lemah tak sanggup menggapainya. Dan akhirnya mereka terkapar sebagai tumbal globalisasi. Biaya pendidikan yang semakin mahal memutus harapan kaum elit (ekonomi sulit) untuk mengenyam nikmatnya ilmu. Hal itu menjadikan negara berkembang memiliki kwalitas pendidikan yang rendah sehingga akan semakin mudah bagi negara-negara maju untuk melakukan pembodohan terhadap mereka.
Apa yang saya tulis ini belum ada sekuku hitam dari globalisasi yang keberadaannya semakin global dan kompleks. Namun, saya ingin menegaskan bahwa globalisasi bukanlah hal yang mengenakkan bagi kita. Globalisasi ibarat pil koplo bagi negara berkembang, yang ketika kita sudah mencobanya akan sulit untuk keluar dari jeratnya. Bagaimana keluar dari jerat globalisasi, marilah kita bersama-sama menjadikannya sebagai bahan renungan dan pendobrak jiwa untuk lebih giat dalam menuntut ilmu dan mengaplikasikannya dalam dunia nyata.
Singsingkan lengan baju, lawan globalisasi !!!
Namun, apa yang terjadi sekarang ini sangat jauh dari apa yang pernah dikampanyekan oleh negara-negara maju. Karena ternyata globalisasi tak ubahnya kendaraan gratis, dengan negara-negara penganjur sebagai freeriders-nya. Sebuah laporan PBB (UNDP,1999) menyebutkan bahwa ketimpangan antara orang-orang kaya dengan orang-orang miskin baik dalam negara maupun antarnegara semakin meluas. Dan ironisnya, yang menjadi penyebab utama dari hal itu adalah sistem perdagangan dan keuangan global.
Merujuk pada peristiwa yang dialami oleh Macan-Macan Asia (Taiwan, Singapura, Malaysia, dan Korea Selatan) yang dulunya pernah mencapai perbaikan ekonomi justru dengan cara melakukan kebalikan dari perintah Bretton Woods, yaitu mengalihkan impor dengan mengembangkan kemampuan mengelola kebutuhan pokok secara internal dengan tidak berbasis pada ekspor. Namun, pada akhirnya mereka mengalami keterpurukan yang teramat memilukan (krisis keuangan Asia 1997-1998) ketika mereka tunduk pada tekanan-tekanan IMF dan Bank Dunia. Tentunya rujukan itu sudah dapat digunakan sebagai ”sinisme tingkat tinggi” jika kita masih menganggap bahwa globalisasi merupakan jalan keluar bagi negara miskin.
Jika kita mau mencermati, kebijakan-kebijakan yang disusun oleh Bretton Woods adalah dirancang untuk memberikan keuntungan kepada negara-negara industri kaya dan korporasi-korporasi global dengan tetap mengatasnamakan rakyat kecil sebagai sasaran kebijakan-kebijakan itu. Iya! Rakyat kecil memang menjadi sasaran, tapi sasaran yang dimaksud ternyata adalah sasaran empuk guna memenuhi ambisius keserakahan mereka. Sungguh, fakta yang menyedihkan.
Dengan membentuk instrumen yang bernama SAPs (Structural Adjustment Programs), IMF dan Bank Dunia semakin kuat mencengkeramkan kuku-kuku kekuasaannya terhadap negara-negara miskin. Ada berbagai persyaratan SAPs yang harus dipenuhi yang kesemuanya lebih pada pembantaian terhadap negara-negara berkembang.
Mengkritisi salah satu persayaratan SAPs yang menyebutkan bahwa harus ada pengurangan secara drastis terhadap berbagai pelayanan sosial dan aparat-aparat yang menjalankannya. Bagaimana hal itu bisa dikatakan sebagai sarana meningkatkan perekonomian negara berkembang? Kacamata seperti apa yang mereka gunakan, sungguh suatu pernyataan yang sulit diterima oleh rasio. Sementara di sisi lain, bantuan terhadap industri-industri kecil lokal dihapuskan. Lalu dengan cara apa negara-negara berkembang bisa mengejar negara maju. Dan dalam kebingungan tersebut bak dewa penolong negara-negara maju menawarkan bingkisan-bingkisan bantuan yang terkemas rapi yang ternyata tak lebih dari jeratan yang kita akan semakin menggelepar dalam jeratan tersebut.
Penghapusan pelayanan sosial tentu akan mempersulit rakyat dalam mendapatkan apa yang diperlukannya. Biaya-biaya kesehatan akan semakin mahal sehingga rakyat yang berada dalam zona ekonomi lemah tak sanggup menggapainya. Dan akhirnya mereka terkapar sebagai tumbal globalisasi. Biaya pendidikan yang semakin mahal memutus harapan kaum elit (ekonomi sulit) untuk mengenyam nikmatnya ilmu. Hal itu menjadikan negara berkembang memiliki kwalitas pendidikan yang rendah sehingga akan semakin mudah bagi negara-negara maju untuk melakukan pembodohan terhadap mereka.
Apa yang saya tulis ini belum ada sekuku hitam dari globalisasi yang keberadaannya semakin global dan kompleks. Namun, saya ingin menegaskan bahwa globalisasi bukanlah hal yang mengenakkan bagi kita. Globalisasi ibarat pil koplo bagi negara berkembang, yang ketika kita sudah mencobanya akan sulit untuk keluar dari jeratnya. Bagaimana keluar dari jerat globalisasi, marilah kita bersama-sama menjadikannya sebagai bahan renungan dan pendobrak jiwa untuk lebih giat dalam menuntut ilmu dan mengaplikasikannya dalam dunia nyata.
Singsingkan lengan baju, lawan globalisasi !!!
Selasa, 06 Mei 2008
Bangunan megah, mobil-mobil mewah yang terparkir dengan rapi, ruangan yang selalu ber-AC, lantai yang mengkilap, mahasiswa yang petentang petenteng menenteng laptop, serta dosen-dosen yang rapi berdasi, begitulah sekilas gambaran tentang FEB UGM fakultas kita tercinta. Begitu indah dan menyenangkan. sejauh mata memandang yang tampak adalah wajah-wajah ceria penuh gelak tawa para mahasiswa.
Timbul pertanyaan dalam benak saya, benarkah ini fakultas yang orang-orang di dalamnya belajar tentang ekonomi? benarkah di fakultas ini berisi orang-orang yang tahu bagaimana memanfaatkan sumberdaya alam dengan sebaik mungkin?
EKONOMI. kita semua pasti tahu apa yang dipelajari dalam ekonomi adalah bagaimana memanfaatkan sumberdaya yang terbatas guna memenuhi kebutuhan manusia yang tidak terbatas. dan kita tentu juga paham betul arti dari prinsip ekonomi yang menyebutkan bahwa kita harus bisa mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya. Lalu,, fakta yang disuguhkan dalam fakultas ini begitu berbeda dengan konsep yang telah diajarkannya.
Para penghuni Fakultas Ekonomi ternyata justru orang-orang yang tidak berjiwa ekonomis. Saya tak perlu menguraikannya dengan panjang lebar karena teman-teman tentu bisa merasakannya sendiri.
Teman,,jika kita mau melihat keluar,sungguh suatu pemandangan yang lucu dan memprihatinkan tengah terpampang. FEB yang begitu megah,, tapi begitu kita keluar kita langsung disambut sebuah tangan terulur yang meminta belas kasihan.
Begitulah sebenarnya realita kehidupan yang harus kita hadapi teman. Semoga FEB tidak melenakan kita, sehingga kita tidak peduli dengan realita ekonomi yang sedang terjadi.
Timbul pertanyaan dalam benak saya, benarkah ini fakultas yang orang-orang di dalamnya belajar tentang ekonomi? benarkah di fakultas ini berisi orang-orang yang tahu bagaimana memanfaatkan sumberdaya alam dengan sebaik mungkin?
EKONOMI. kita semua pasti tahu apa yang dipelajari dalam ekonomi adalah bagaimana memanfaatkan sumberdaya yang terbatas guna memenuhi kebutuhan manusia yang tidak terbatas. dan kita tentu juga paham betul arti dari prinsip ekonomi yang menyebutkan bahwa kita harus bisa mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya. Lalu,, fakta yang disuguhkan dalam fakultas ini begitu berbeda dengan konsep yang telah diajarkannya.
Para penghuni Fakultas Ekonomi ternyata justru orang-orang yang tidak berjiwa ekonomis. Saya tak perlu menguraikannya dengan panjang lebar karena teman-teman tentu bisa merasakannya sendiri.
Teman,,jika kita mau melihat keluar,sungguh suatu pemandangan yang lucu dan memprihatinkan tengah terpampang. FEB yang begitu megah,, tapi begitu kita keluar kita langsung disambut sebuah tangan terulur yang meminta belas kasihan.
Begitulah sebenarnya realita kehidupan yang harus kita hadapi teman. Semoga FEB tidak melenakan kita, sehingga kita tidak peduli dengan realita ekonomi yang sedang terjadi.
kenalan yuk
Duu....h,, Jogja kok panas banget ya. Temen-temen ngerasa juga ga' sih kalo Jogja tu semakin panas. aku aja yang tinggal di Jogja belum ada 1 tahun ngerasa ada perubahan iklim yang begitu drastis lho....
Apa sich penyebabnya...
GLOBAl WARMING!! yups.. jawaban yang sangat tepat. gimana nich temen-temen.. kalo semakin hari semakin panas, tubuh kita bisa mateng kayak ikan bakar lho.....
Ohya,,pada tulisan aku yang lalu dah pernah kutulis cara-cara meminimalisir dampak global warming kan? lalu,, sudahkah teman-teman mempraktekkannya.. yach paling tidak salah satu ja kalo takut salah semua,,
Teman-teman yang kusayang,,gambar yang aku cantumkan pada blog ini indah sekali kan..? Tapi, pemandangan yang indah itu lama-kelamaan akan hilang kalau kita ga' mau peduli dengan alam kita ini. Sayang sekali,,,padahal anak cucu kita juga pengin menikmati pemandangan alam yang indah.
Yuks... kita bareng-bareng jaga alam ini.
Minggu, 27 April 2008
Cara mengurangi dampak global warming
Isu tentang global warming dan climate change tentunya sudah akrab di gendang telinga kita. Dua tamu tak diundang tersebut seakan menjadi monster yang setiap saat bisa menghancurkan dunia ini. Nah, lewat blog ini saya mau mengajak teman-teman untuk bareng-bareng mengurangi dampak dari global warming tersebut.
Apa sich yang bisa kita lakukan,,,
1. Beli barang yang awet meski harganya lebih mahal. barang yang murah memang selalu menjadi pusat perhatian konsumen ya,,apalagi kita sebagai mahasiswa yang isi kantongnya hanya cukup buat beli nasi kucing(hehe.. pengalaman pribadi). akan tetapi, ternyata membeli barang yang murah lebih banyak ruginya lho... kok bisa sich? coba aja gunakan analisis ekonomi kalo ga' percaya. barang yang murah masa manfaatnya hanya sebentar so, kita akan lebih banyak mengeluarkan uang untuk membeli lagi. dan ternyata, hal itu akan mempercepat global warming juga lho... karena sampah-sampah akan semakin banyak.
2. Beli barang dari hasil daur ulang. Membeli barang dari daur ulang juga akan mengurangi penumpukan sampah plastik lho..
3. Efisiensi energi. Nah, bagi teman-teman yang masih suka menyalakan lampu di siang hari sebaiknya dihentikan ya..lagian kan sudah ada lampu alam yang sangat terang. benar khan,,,
4. Hemat air.juga jangan terlalu boros menggunakan air. mandi sekali sehari cukup to...hehehe.MAtikan kran sehabis dipakai, kasihan ibu kos kalo nanti yang matikan beliau.
5. KUrangi pemakaian sumber energi nonfosil. nah,,ini yang agak sulit.. pokoknya usahakan jangan terlalu banyak memakainya ya..kalo hanya mau pergi sejauh 1 meter jalan kaki aja kan cukup.
cukup mudah kan untuk dilakukan,,hayo siapa yang masih merasa keberatan untuk membantu alam kita yang sedang kritis ini?
dari diskusi yang telah saya ikuti mengenai global warming yang dipandu oleh bapak Nasrudin saya mendapat pengetahuan yang menarik yang teman-teman juga perlu tahu. ternyata bahan untuk pembuatan pampers sangat sulit untuk diuraikan. butuh waktu 50 tahun untuk menguraikannya,,lama banget khan? makanya, bagi yang masih punya adik bayi jangan sering-sering deh dikasih pampers. dan ternyata ada yang lebih sulit untuk diuraikan lho...yaitu filter rokok yang membutuhkan waktu 100 tahun untuk menguraikannya. jadi bagi para perokok yang terhormat cobalah untuk mengurangi kontribusinya terhadap global warming.
untuk kali ini, sekian dulu info dari aku. jangan khawatir...kapan kapan disambung lagi.okey.
Sabtu, 26 April 2008
Ramuan "AMPUH" belajar
Proses belajar tidak hanya terhenti pada bangku sekolah lho..... Di manapun, kapanpun kita bisa belajar, tul ga' temen-temen. Bahkan, kita dituntut untuk terus belajar selama nafas masih berhembus. Dalam perjalanan kita yang masih begitu panjang kita perlu belajar banyak hal sebagai bekal masa depan dan mempertahankan diri dalam kondisi dunia yang semakin tidak bersahabat.
Bagi pelajar layaknya kita saat ini, terkadang belajar menjadi sesuatu yang membosankan dan ingin dihindari. oleh karena itu, pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi ramuan AMPUH yang bisa kita "minum" bareng-bareng guna meningkatkan kualitas belajar kita. Simak dan cermati untuk kemudian direguk bersamaan dengan membaca Basmallah.
ramuan AMPUH untuk belajar:
1. Ambil kesempatan, kita perlu ingat bahwa kesempatan tak pernah datang dua kali dalam hidup kita. gunakan waktu yang ada seefisien mungkin.
2. Mantapkan motivasi, motivasi dari setiap individu berasal dari sumber yag berbeda. Cobalah untuk mengenali apa yang menjadi motivasi dalam belajar, setelah itu dapat dikenali mantapkan hati untuk terus termotivasi.
3. Pelajari ketrampilan, ketrampilan apa yang kita miliki kemudian kembangkan.
4. Usaha optimal, kita harus yakin bahwa tak akan ada hasil jika tak ada usaha.
5. Hidup seimbang, sebagai mahasiswa kebanyakan terlalu tidak peduli dengan pola makan dan keseimbangan aktivitas sehingga kita sering merasa letih dan akhirnya malas untuk belajar.
Semoga ramuan AMPUH ini bermanfaat untuk kita semua.
Langganan:
Postingan (Atom)



